Kamis, 08 November 2012

SH Cemas Suasana Hatinya

[LAW]

Siang ini, sang SH sedang iseng membaca buku-buku lamanya. Tak ada yg ingin didapatinya, ia hanya ingin skedar menganggur secara berkualitas. Sang SH tak habis pikir, mengapa ada saja orang-orang yg gemar menuliskan pikirannya ke dalam sebuah buku. Buku yg habis ia baca dalam sejam saja mungkin telah menghabiskan waktu berbulan-bulan bagi penulisnya untuk melakukan beberapa penelitian. Yah, hampir sama dengan sifat makanan, masaknya sejam makannya semenit, cappe deh ckck...

Beberapa kosakata baru pun sang SH dapati selama membaca. Segala sesuatunya rinci ia temukan uraiannya pada Kamus Kecil Bahasa Indonesia miliknya. Invoice, eselon, obligasi, audit, holding, performance bond? Ternyata masi ada saja kosakata yg tak pernah ia dengar walaupun telah dicekok pelajaran "Bahasa Indonesia" selama 9 tahun wajib belajar. Bahkan jarinya sedikit kaku dan kelu bila harus menuliskan kembali tulisan tegak bersambung. Gak nyangka dulu ia pernah belajar sesuatu yg ternyata tidak dipergunakan di masa depannya seperti saat ini, ckck...

Suara berisik sedikit mengusik, beberapa kawan sibuk bermain uno di sampingnya. Permainan kartu yg mungkin suatu saat bisa masuk sebagai salah satu cabang olahraga di PON. Sang SH tak turut berbaur karena ia bukanlah atlit uno. Beberapa kawan lainnya malah sepi sendiri, terhanyut oleh drama korea pada laptopnya. Memandangi artis-artis korea yg begitu mulus wajahnya akan membuat sang SH teringat pada mulus ban motornya yg tak pernah ia service sejak 3 bulan lamanya. Makanya ia lebih memilih untuk membaca buku saja, buku dengan judul "Rakyat=Partai(kah?)". Judul yg aneh ya, ckck...

Sang SH berhenti di pertengahan buku. Sejenak ia mengambil stabilo kuning, lalu menintakannya pada salah satu bait bacaan. "Bila Anda pemimpin dari partai, maka kebaikan Anda hanya akan dilihat oleh partai Anda. Lebih baik menjadi Mario Teguh, yg setiap omongannya dapat diterima oleh seluruh orang, dibanding menjadi bagian dari partai yg omongannya hanya dapat diterima oleh bagian dari partainya saja. Itulah yg terjadi bila persaingan antar partai tidak segera dibenahi oleh bangsa ini. Boleh saja ada 20 partai di indonesia ini. Namun ingatlah, bahwa indonesia ini 1, bukan 20. Omongan Anda perlu diterima oleh 20, bukan 1/20. Maka berpikir dan bertindaklah dahulu agar 20 itu menjadi 1, bukan 1/20 terus seperti itu". Kalimat inilah yg diwarnai tebal oleh sang SH. Kalimat inilah yg membuatnya terus mengangguk-angguk sambil berkata "oo benar juga ya, ckck..."

Satu persatu pemimpin maju-mundur mencoba membenahi negara ini. Mereka maju namun ternyata malah memundurkan bangsa ini. Ditambah lagi mereka tak mau mundur bahkan ingin lagi maju di pemilihan pemimpin berikutnya. Kayak ibu-ibu yg hobi belanja aja, sekali masuk kagak kunjung keluar-keluar. Mereka kira negara ini supermarket kali ya. Jual beli hukum dimana-mana. Sewa-menyewa keadilan disana-sini. Tukar-pinjam kekuasaan di kanan-kiri. Hoy penguasa, kalian telah mendzalimi manusia dari sabang sampai merauke, dari keturunan ternate juga tidore, dari pengemis kere hingga para penjual tahu-tempe. Tolong dong berhenti korupsi. Gara-gara Om jin di iklan rokok itu sih. Bukannya membasmi korupsi, malah berkas-berkasnya yg dihilangi, jadi makin sulit deh pembuktian di persidangannya. Makanya ga heran kasus-kasus korupsi selalu sulit penuntasannya. Gayus dkk keliatan banget nih girangnya, haduh-haduh ckck...

Apa yg terjadi dengan negaraku? Mungkin itulah inti kecemasan sang SH selama ini. indonesia telah tertangkap basah sedang berusaha memperlebar kesenjangan sosialnya. Miskin makin miskin, kaya makin kaya. Yang miskin menasehati anak-anaknya bahwa memiliki banyak uang adalah sumber kejahatan. Yang kaya menasehati anak-anaknya bahwa tidak memiliki banyak uang adalah sumber kejahatan. Dengan demikian tenyata penuh sesaklah Indonesia dengan kejahatan. Menyikapi hal ini sang SH justru tertawa kecil saja. Naluri mahasiswanya masi terasa. Secara kasat memang yg bergelar mahasiswa itu tampak mempunyai naluri seorang pahlawan. Segala sesuatunya terdengar benar bila mahasiswa yg mencoba berkomentar dan menangani. Permasalahannya ialah bagaimana agar naluri kepahlawanan itu tetap ada setelah nanti menjadi penguasa negara??

September 2012

2 komentar:

  1. Sebuah tulisan yang bagus, meski singkat namun memberkan makna yang cukup dalam.

    BalasHapus
  2. Sangat mengena.. tulisan yg "SH Bukan Super Hero" juga bagus.. ditunggu tulisan lainnya..

    BalasHapus