Baru-baru ini, saya dari Kota Balikpapan untuk memenuhi suatu panggilan tes kerja. Dua hari saja, namun memberi kesan yg menarik perhatian saya bahwa ternyata Kota Balikpapan begitu indahnya. Perpaduan antara kota metropolitan, hamparan pantai sepanjang jalur selatan, ruang kota untuk bersantai seperti taman dan lapangan yg amat banyak, juga kebersihan kota yg sangat nyata, membuat saya merasa akan betah bila harus berlama-lama di kota ini. Lebih lanjut dalam artikel ini bukanlah menceritakan tentang Kota Balikpapan, ini hanyalah prolog, hehe.
Akhirnya saya memutuskan kembali ke kampung saya Kota Bontang karena hasil tes memerlukan untuk ditunggu dalam beberapa waktu. Melalui bantuan teman saya, saya pun mendapati kontak dengan seorang supir yg dengan mobil travelnya akan membawa saya pulang ke Bontang. Supir ini memiliki tampang sangar namun begitu bersahabat. Sesekali ia curhat mengenai masalah hidupnya. Dalam suatu topik ia mengatakan, "Ya hanya beginilah yg bisa saya kerjakan. Ya mau bagimana, ga punya ijazah ya susah gini cari kerja. Ijazah SD aja saya ga punya mas..." Hmm, hati saya terketuk, rasa syukur mengalir dalam lisan batin bahwa saya telah diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat belajar hingga pucuk pendidikan yg tinggi. Namun dengan situasi dan kondisi yg sedang saya alami, status sebagai seorang jobseeker membuat saya secara spontan menjawab penyataan supir tersebut, "Jangankan ga punya ijazah, yg punya ijazah aja susah dapet kerja Pak..." Supir tadi pun sependapat juga dengan pernyataan saya itu, kemudian ia lanjut lagi bercerita mengenai hal lainnya.
Sampai pada satu tema yg membawa lari rasa ngantuk saya, dia mengatakan bahwa dalam satu hari itu telah ada 2 travel (kedua supir adalah temannya) yg kecelakaan. "Waduh", saya bilang. "Apa karena ini malam jumat ya", celetuk supir itu. Bombastisnya lagi saya duduk di kursi terdepan yg dapat melihat langsung gesitnya liuk-liuk gerakan mobil, lengkap sudah rasa cemas melanda. Saya putuskan sebisa mungkin terjaga untuk memastikan bahwa perjalanan saya akan aman-aman saja.
Dalam usaha saya menjaga kondisi agar tak tertidur, secara tidak langsung saya melihat sesuatu yg terjadi secara berulang-ulang. Tanpa sadar saya seperti sedang melakukan observasi ato penelitian tentang: 'Upaya Supir Travel Agar Tidak Mengantuk'
Hal-hal yg terjadi yg menjadi faktor tidak ngantuknya supir travel ialah:
1. Supir travel selalu men-setting dering HP nya pada nada yg keras, sehingga bila ada telepon ato sms yg masuk dapat meriuhkan suasana.
2. Masuk tidaknya telepon atau sms bukanlah sesuatu yg diharapkan ada, melainkan memang selalu ada secara berkala. Hal ini disebabkan karena sesama supir travel memang secara sengaja akan saling telpon-telponan. Mungkin inilah yg disebut sebagai suatu kerjasama tim. Dengan saling menelepon dan membahas mengenai topik apa saja akan membuat supir tidak mengantuk. Jadi supir akan segera menelepon temannya bila tiba-tiba dia menemui rasa kantuk menghampiri.
3. Pada perjalanan malam hari, memainkan lampu utama mobil adalah hiburan tersendiri bagi supir travel. 'Cetak cetek cetak cetek', suara pergantian lampu dekat lampu jauh adalah hal pasti yg selalu bersenandung sepanjang perjalanan. Apalagi bila terdapat tanda-tanda di batas-batas pinggir jalan, biasanya kayu-kayu berjejer dengan sedikit cat warna kuning di atasnya yg akan terlihat menyala bila terkena sorot lampu. Dengan 'cetek cetek' maka tanda-tanda batas jalan tersebut akan tampak seperti berkelap-kelip.
4. Masih berkaitan dengan lampu. Bila ada mobil di depan yg berjalan menuju arah berlawanan, saat menjelang papasan si supir akan memainkan lampu 'cetak cetek'. Bila mobil di depan tersebut membalas dengan 'cetak cetek' juga, maka supir dengan segera akan memencet klakson 'tiiin', dan mobil tersebut juga pasti akan membalasnya 'tiiiiin'. Ternyata itu adalah kode yg akan menujukkan apakah supir di seberang adalah kawan ato bukan, dan tentunya ini mungkin bagian dari cara yg disepakati oleh supir-supir untuk saling membantu agar tidak mengantuk.
5. Bila rasa kantuk sudah benar-benar tak tertahankan, supir pasti akan berhenti di warung terdekat yg ada dipinggir jalan. Sekedar untuk mendapati teman ngobrol sebentar, atau cuci muka, pun atau minum kopi, dll. Pada saat perjalanan saya, pada salah satu perhentian, saya juga ikut turun bersama si supir untuk makan satu mangkuk mie rebus telur. Ada satu statement dari supir mobil saya kepada teman supirnya yg kebetulan juga sedang berhenti di warung yg sama, ia mengatakan, "Kalau ngantuk, jangan kerja". Mungkin pesan ini terasa penting untuk supir tersebut katakan mengingat telah ada 2 travel yg kecelakan pada hari itu.
6. Cara lainnya yg mungkin merupakan bagian dari upaya agar tidak mengantuk, ialah pemilihan musik yg diputar di dalam mobil adalah lagu bertipe rock, ngebit, atopun dangdut koprol. Jarang si supir nyetel lagu pop melayu, yg sendu-sendu, melow-melow, ato bahkan hanya musik instumen. Tentu kalian paham mengapa demikian.
Itulah hal-hal yg saya dapati dalam satu malam perjalan saya dari Balikpapan ke Bontang. Saat saya hampir saja terlelap, saat itu pula si supir bercerita lagi bahwa ia mendapat kabar bahwa ada 1 lagi travel yg kecelakaan baru-baru saja. "Waduh", kata ini lagi yg saya katakan. Terenggut lagi rasa ngantuk saya dan dengan kekuatan yg tersisa saya mencoba untuk tetap 'ON' sampai mobil yg saya tumpangi ini benar-benar telah sampai di depan rumah saya. Walhasil, sampailah saya di rumah dengan selamat. Dengan nada pelan si supir mengatakan, "150 ribu hehe, karena penumpangnya dikit". "Ohya tak apa Pak", jawaban saya karena memang benar penumpangnya sedang sedikit. Bila mobil penuh biaya travel biasanya hanyalah 125 ribu rupiah. Masuklah saya ke rumah dengan memanjat pagar karena pagarnya sudah dikunci, lalu membuka pintu rumah dengan cara alternatif yg 'hanya diketahui keluarga', cuci muka dan lalu tidur... Sekian cerita saya, terima kasih ya sudah menemani membacanya, hehe, daaa... :)
Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar